7 Tips Menulis Case Report Kedokteran agar Bisa Tembus Jurnal Internasional

FA

Fery A.

29 Agustus 2025

7 Tips Menulis Case Report Kedokteran agar Bisa Tembus Jurnal Internasional

Case report adalah jenis artikel ilmiah yang sering jadi entry point pertama bagi dokter umum, mahasiswa kedokteran, maupun spesialis dalam dunia publikasi. Meski terlihat sederhana, menulis case report yang bisa tembus jurnal internasional butuh strategi dan ketelitian. Banyak naskah ditolak karena tidak mengikuti struktur yang tepat atau gagal menunjukkan clinical impact.

Berikut 7 tips praktis agar case report kamu punya peluang lebih besar diterima jurnal bereputasi!


1. Pilih Kasus yang Unik dan Bermakna Klinik

Jangan asal tulis kasus yang "biasa-biasa saja". Editor jurnal hanya tertarik pada kasus yang:

  • Jarang dilaporkan sebelumnya
  • Memberikan insight baru dalam diagnosis atau penatalaksanaan
  • Memiliki nilai edukatif atau memperkuat guideline

🔍 Contoh: Efek samping obat yang tidak umum, presentasi klinis atipikal, atau penggunaan teknik terapi baru.

2. Cari Jurnal yang Cocok Sejak Awal

Banyak penulis pemula menulis dulu, lalu bingung jurnal mana yang cocok. Padahal, setiap jurnal punya gaya, aturan format, dan cakupan yang berbeda.

🔍 Tips: Baca dan analisis case report yang sudah dipublikasikan di jurnal targetmu. Pelajari gaya bahasanya, jumlah kata, jumlah referensi, hingga format gambar.

3. Ikuti Struktur Penulisan yang Diperlukan

Sebagian besar jurnal mengharuskan format berikut:

  • Abstrak (tanpa struktur, biasanya 150–250 kata)
  • Pendahuluan (1–2 paragraf)
  • Deskripsi Kasus (inti laporan)
  • Diskusi (harus mencakup literatur dan insight)
  • Kesimpulan & Pelajaran Klinis

🔍 Gunakan template standar dari jurnal seperti BMJ Case Reports atau Elsevier Clinics sebagai acuan.

4. Tulis Diskusi yang Bernilai dan Terhubung dengan Literatur

Bagian diskusi bukan hanya ringkasan kasus, tapi tempat kamu menjelaskan kenapa kasus ini penting dan apa yang bisa dipelajari darinya.

🔍 Tips: Bandingkan kasus kamu dengan literatur serupa, tunjukkan perbedaan, dan diskusikan implikasi klinisnya. Ini yang membuat editor tertarik.

5. Pastikan Etik dan Izin Publikasi Pasien

Salah satu alasan penolakan umum: tidak adanya informed consent dari pasien. Ingat, meskipun data sudah dianonimkan, izin tertulis tetap penting.

🔍 Gunakan formulir persetujuan publikasi sesuai standar jurnal atau institusi.


6. Jangan Abaikan Kualitas Bahasa dan Referensi

Jurnal internasional menuntut kualitas bahasa Inggris yang baik. Banyak naskah ditolak bukan karena kontennya, tapi karena gaya bahasa yang tidak sesuai standar akademik.

🔍 Tips: Gunakan proofreading atau bantuan aplikasi seperti Grammarly. Jangan lupa pakai referensi primer dan terkini (5–10 tahun terakhir).


7. Revisi Berkali-kali & Minta Review Sebelum Submit

Hampir semua penulis ahli melakukan revisi berkali-kali sebelum mengirim ke jurnal. Libatkan rekan sejawat atau mentor untuk membaca ulang dan memberi masukan.

🔍 Checklist Final: Format sudah sesuai? Data akurat? Gambar jelas? Referensi valid?


Siap Publish Case Report ke Jurnal Bereputasi?

Menulis case report bukan sekadar menceritakan kasus menarik. Ini adalah seni menyampaikan informasi klinis secara ringkas, tajam, dan relevan bagi komunitas medis internasional.

📲 Ingin belajar langsung dari pakarnya bagaimana cara menulis case report yang layak publish?
 Follow Instagram kami di @klinikilmiah untuk info terbaru tentang webinar & workshop penulisan kedokteran yang bisa membawamu satu langkah lebih dekat ke publikasi jurnal bereputasi!

Postingan Terbaru

Tidak ada postingan terbaru